Kenaikan harga kedelai sebagai akibat berkurangnya
pasokan kedelai yang memberikan dampak pada melemahnya daya pasok industri
tempe dan tahu, merupakan salah satu gambaran kegagalan kita dalam menegakkan
kedaulatan pangan. Bagaimana tidak,
konsumsi tempe dan tahu sebagai sumber protein utama bangsa ini akhirnya harus
dikendalikan oleh jumlah pasokan kedelai asing.
Bagaimana tidak menyakitkan, produk budaya konsumsi protein yang dibentuk
bersama dengan terbentuknya bangsa ini, harus ditekan bahkan mungkin mati, dan
mengharap belas kasihan produksi kedelai bangsa lain.
Tidak salah kiranya saat saat Henry Kisinger
(mantan menteri luar negeri Amerika), menngatakan “control oil and you can control the nation, control food and you can
control the people” (kalau kita ingin menguasai sebuah negara, kuasai
minyak dan kalau kita ingin kuasai bangsanya, kuasai pangannya). Hal ini
merupakan pandangan penting negara adidaya, bahwa pada masa depan, Pangan dapat
menjadi senjata penting untuk memaksa, menekan bahkan menindas kebudayaan
tertentu, bangsa tertentu. Membentuk ketergantungan pada kuantitas dan kualitas
konsumsi pangan tertentu, menguasai sumberdaya utama konsumsi pangan dan
mengendalikan pasokan pangan, merupakan tahapan praktek penjajahan pangan. Tidak perlu lagi mengancam sebuah negara
dengan senjata, cukup dengan mengendalikan ketersediaan pangan.
Menggunakan Pangan sebagai komoditi politik
internasional keberadaanya telah diingatkan Sukarno melalui NEOKOLIM – neo
kolonialisme dan neo imperialisme. Bentuk baru kolonialisme dan imperialisme
itu mungkin tidak serumit mekanisme yang terjadi saat ini. Peringatan Sukarno jelas mengatakan bahwa
Ekonomi merupakan salah satu pilar penting kedaulatan, dan jelas saat bahwa
kita abai mempersiapkan sektor pangan kita sebagai salah satu pembentuk ekonomi
yang penting.
Hal Keadulatan Pangan telah banyak dibicarakan
sejak tahun 90an. Beberapa tokoh
nasionalis telah berbicara bahwa kita akan memiliki berbagai masalah pangan
sebagai akibat kegagalan kebijakan, infrastruktur, pergeseran ekonomi dan
perubahan sosial. Kegagalan kedaulatan
pangan dikontribusi oleh berbagai agregat permasalahan. Pertama,
Kegagalan mempertahankan produksi sebagai akibat pergeseran tataguna
lahan. Tahun 2009 dicatat lahan
pertanian hanya tersedia 7,7 juta hektar, dari kebutuhan ideal 11-15 juta
hektar. Hal ini dipengaruhi oleh
konversi lahan yang tinggi yang dicatat mencapai 100-110 ribu hektar per
tahun. Kalau jumlah ini ditara dengan
tanaman padi, maka pada tingkat produksi 5 ton/ha kita akan terus kehilangan
padi 1 – 1,1 juta ton setiap tahun setara padi. Dengan penurunan ini,
diprediksi kita akan mengalami kerawanan pangan pada 180 kabupaten kota dari
480 kabupaten kota hingga tahun 2017.
Kedua, Kegagalan Kegagalan
mempertahankan produksi sebagai akibat rendahnya dukungan membentuk ekonomi
agraris yang tangguh. Pertanian tangguh
rupanya hanya slogan semata. Bagaimana
bisa tangguh saat petani identik dengan orang tua yang tidak berpendidikan. Kenyataanya sangat sedikit generasi muda
bangsa ini yang akan dengan kebebasan sendiri akan memilih untuk memasuki dunia pertanian. Bahkan anak
petani tidak akan memilih pertanian sebagai pilihan pertama. Hal ini menunjukkan bahwa dunia pertanian
tidak menarik minat generasi baru. Image
bahwa pertanian adalah sistem yang miskin, kotor dan tidak dapat memberikan
masa depan yang cerah merupakan gambar yang dilihat generasi baru kita. Profesi petani merupakan sektor berpenghasilan terendah, berkisar 438.149/bulan (bandingkan upah
buruh bangunan sebesar 734.070/bulan (2006).
Pantaslah bila jumlah pasokan tenaga berlatar belakang ilmu pertanian
terus menurun seiring penurunan minat memasuki bidang agrokompleks. Bidang agraris yang tangguh hanya dapat
dilakukan dengan peran serta pemerintah melindungi sektor pertaniannya. Dibanyak negara maju termasuk Amerika
Serikat, negara mengalokasikan banyak anggaran untuk melindungi petaninya. Amerika pada tahun 2006 memberikan subsidi
lebih dari 2 milyar dollar amerika, meningkat lebih dari 15% dari tahun
2003. Dengan subsidi sebesar itu, tiap
petani Amerika menikmati dukungan pemerintah lebih dari 250 US$/ha (2,5 juta
rupiah / ha). Berapa yang sudah kita
berikan untuk petani kita ?.
Masih banyak faktor lain yang bertanggung jawab
atas kegagalan kita mempertahankan kedaulatan pangan kita. Namun sebagai bagian awal yang kecil kita
dapat memulai perbaikan kedaulatan kita dengan
langkah strategis;
Pertama, mendorong pertumbuhan
lahan pertanian dan produksi yang setara dengan kebutuhan pangan, perencanaan tataguna
lahan, pengaturan kompensasi kehilangan lahan pertanian harus secara konsisten
ditegakkan. Konsistensi melaksanakan rencana
program Peningkatan Ketahanan Pangan yang telah ditetapkan, dengan pemantauan
keberhasilan yang ketat juga merupakan hal yang harus dilakukan.
Kedua, meningkatkan dukungan
pada sektor pertanian melalui insentif, subsidi, perlindungan produk dan
pengelolaan pasar yang lebih baik akan dapat mendorong gairah sektor pertanian
sebagai pusat kesejahteraan.
Ketiga, pengelolaan kultur pangan
yang sehat, ragam dan sesuai dengan potensi daerah juga merupakan langkah
penting dalam mengendalikan kualitas dan kuantitas pangan bangsa ini. Kita
dengan kemampuan kita, perlu terus mendorong upaya sosialisasi, pembiasaan dan
pendidikan kultur pangan tersebut.
Demikian,
agar jangan terjadi pada kita seperti apa yang disampaikan Multatuli tentang
Pangan; “Bahaya kelaparan?... Di pulau Jawa yang subur
dan kaya itu, bahaya kelaparan? Ya, saudara pembaca. Beberapa tahun yang lalu
ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan,…ibu-ibu menjual
anak-anak untuk makan,…ibu-ibu memakan anaknya sendiri” (Multatuli, Max Havelaar, 1972
(asli 1860) hal. 64)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar